Dari Hobi Jadi Rezeki, Bu Puput Kembangkan Oma Kopi Plataran
Senja turun perlahan di langit kota
Surabaya, menorehkan warna jingga lembut di jendela kafe yang hangat dan sarat
cerita. Di balik meja kayu, Bu Puput, seorang dosen yang dikenal lembut dan
bersahaja, tampak larut dalam kesibukan meracik kopi. Jemarinya menari anggun
di atas alat seduh, menakar bubuk kopi dengan ketelitian yang sama seperti saat
ia menjelaskan teori di ruang kuliah. Aroma kopi yang baru diseduh menguar,
berpadu dengan semilir angin sore dan alunan musik akustik yang lembut. Suasana
kafe seolah berhenti dalam ketenangan. Hanya ada percikan cahaya senja, aroma
kopi, dan siluet Bu Puput yang meneduhkan pandang.
Di tengah rutinitasnya sebagai
tenaga pendidik, Dr. Puput Wanarti Rusimamto, S.T., M.T., dosen rumpun Teknik
Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya, menemukan cara indah untuk
memadukan logika dan rasa. Dari tangannya yang terbiasa menuntun mahasiswa
memahami arus dan rangkaian, lahirlah sebuah ruang hangat bernama Omah Kopi
Pelataran — kafe yang kini menjadi tempat favorit bagi mahasiswa untuk belajar,
berdiskusi, sekaligus melepas penat. Terletak di Babatan Pilang Selatan Blok G1
No. 12A, Wiyung, Surabaya, kafe ini memancarkan nuansa tenang dan akrab, seolah
setiap cangkir kopi yang disajikan menyimpan cerita tentang semangat, dedikasi,
dan kebersamaan. Berawal dari kecintaannya pada kopi serta hasrat menghadirkan
ruang dialog yang hangat bagi sivitas akademika, Bu Puput menjadikan Omah Kopi
Pelataran bukan sekadar tempat menikmati kopi — melainkan wadah pertemuan
antara ilmu, inspirasi, dan kehangatan manusia.
Perjalanan Bu Puput dalam merintis
usaha kopinya bukanlah kisah yang berjalan mulus. Di balik aroma harum kopi
yang kini memenuhi Omah Kopi Pelataran, tersimpan perjuangan panjang menghadapi
keterbatasan modal dan pencarian biji kopi terbaik. Namun, dengan semangat
pantang menyerah, ia bersama sang suami menapaki jalan belajar secara otodidak
— bereksperimen, berlatih, dan menumbuhkan rasa cinta yang lebih dalam pada
setiap tetes kopi yang mereka hasilkan. Bermula dari hobi sederhana membuat
kopi sendiri menggunakan mesin grinder dan espresso yang dibeli
saat pandemi Covid-19 tahun 2020, keduanya terus mengasah kemampuan hingga
akhirnya mengikuti kursus meracik kopi secara gratis.
Dari teras rumah yang sederhana,
lahirlah sebuah mini kafe yang menyajikan racikan kopi khas hasil tangan Bu
Puput sendiri. Tak butuh waktu lama, aroma dan cita rasa kopi buatannya menarik
perhatian banyak kalangan — mulai dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat
sekitar. Di balik setiap cangkir yang tersaji, tersimpan kisah ketekunan dan
cinta akan proses. Kini, Omah Kopi Pelataran bukan sekadar tempat menikmati
kopi, melainkan simbol bahwa dari kesederhanaan dan ketulusan, lahir karya yang
menginspirasi.
Lebih dari sekadar bisnis, Omah Kopi
Pelataran bagi Bu Puput adalah wujud nyata pemberdayaan dan pembelajaran. Di
balik aroma kopi yang menguar lembut, tersimpan semangat untuk membuka
kesempatan dan menumbuhkan jiwa mandiri. Ia mempekerjakan beberapa mahasiswa
sebagai barista paruh waktu — memberi mereka ruang belajar langsung tentang
wirausaha, tanggung jawab, dan pelayanan. Melalui strategi pemasaran digital
serta komunikasi terbuka bersama enam anggota timnya, Bu Puput berupaya
menjadikan usahanya sebagai roda penggerak ekonomi lokal sekaligus wadah
pembentukan karakter generasi muda. Bagi Bu Puput, kafe ini bukan hanya tempat
menjual kopi, tetapi juga ruang tumbuh dan berbagi.
Menariknya, bagi dosen kelahiran
Nganjuk, 22 Juni 1970 ini, menjalankan coffee shop justru menjadi pelengkap
peran pendidiknya. Kafe itu kerap berubah menjadi ruang diskusi hangat — tempat
mahasiswa dan dosen berbincang tentang ide penelitian, dunia kerja, hingga arah
masa depan. “Saat ini saya juga membuka cabang di Fakultas Vokasi. Saya ingin
mahasiswa melihat bahwa ilmu yang mereka pelajari bisa diterapkan di berbagai
bidang, termasuk wirausaha. Mohon doanya agar rencana cabang baru Omah Kopi
Pelataran di foodcourt kampus Unesa Ketintang berjalan lancar,” tuturnya dengan
senyum optimis. Kisah Bu Puput menjadi cerminan nyata bahwa seorang dosen tak
hanya mampu menyalakan semangat belajar di ruang kuliah, tetapi juga
menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan kemandirian di setiap cangkir kopi
yang ia racik.
Di luar, mentari perlahan pamit di balik
pepohonan, meninggalkan cahaya tembaga yang memantul di cangkir-cangkir hangat.
Bu Puput tersenyum kecil, memandang hasil racikannya dengan tatapan penuh makna.
Seolah setiap tetes kopi menyimpan filosofi hidup tentang kesabaran dan
ketulusan. Di Omah Kopi Plataran, waktu seakan berjalan lebih lambat. Setiap
pengunjung diajak menikmati keheningan yang syahdu, meneguk kedamaian di tengah
hiruk-pikuk dunia. Di bawah langit senja yang lembut, kafe itu bukan sekadar
tempat menikmati kopi, melainkan ruang jiwa, tempat di mana rasa, aroma, dan
ketenangan berpadu menjadi sebuah puisi yang hidup. (khusnul).